Kembali ke kesadaran diri kita masing-masing
baik, akan gw mulai mengapa gw blg "Kembali kepada kesadaran diri kita masing2"
gw sempat membaca sebuah artikel yang cukup menggelitik, artikel tersebut membahas masalah piala asia, kita tau bahwa Indonesia mendapatkan penghargaan tertinggi sebagai negara penyelenggara piala bergengsi asia tersebut.
selain sebagai tuan rumah, yang pasti juga mengharapkan akan mencetak rekor baru dengan menjuarai pertandingan tersebut.
ketika indonesia sedang berlaga dalam penyisihan grop, antusiasme dan nasionalisme rakyat indonesia begitu kental.
gw masih ingat waktu Indonesia melawan korea, penonton rela masuk selokan hanya untuk memanjat pagar untuk memasuki stadion karena tiket habis hanya demi nonton kesebelasan merah putih bertanding.
ketika itu banyak kalangan mengatakan bahwa aksi memanjat pagar dan memasuki stadion adalah bentuk dari nasionalisme warga, nasionalisme? artinya apa?
sebagai tuan rumah, kita menjual harga tiket yg melambung tinggi pd saat indonesia masih blm tersisih shingga demi nonton indonesia bertanding harus mengeluarkan uang yg tidak sedikit, ketika indonesia tersisih, tiket2 tersebut di obral abis abisan.
apakah kita sadar bahwa aksi kita sebagai tuan rumah itu malu? menaikan harga tiket!! paksa masuk stadion!! semua hal itu tak disadari oleh kita. apakah pantas kita sebut aksi kita tersebut sebagai bentuk dari nasionalisme? menurut gw tidak!!
gw ga tau apakah pembaca mempunyai pandangan yang sama dengan gw mengenai penyelenggaraan piala asia ini.
baik kembali ke topik, siang tadi, gw menghadapi seorang nasabah yang belum menjalankan kewajibannya sbg seorang debitur yg baik, ybs blm membayar cicilan kreditnya, gw melakukan follow up ke dia via telp, namun komunikasi kami terdapat sedikit perselisihan.
Ybs mengeluarkan 1 kata bahwa dia tidak bs membayar sekarang, tetapi siap utk bayar bln dpn sebanyak 2 bln. ketika itu gw pun berusaha menekan agar ybs tdk menunggak, karena ujung2nya yg rugi dia, ybs cmn blg "tdk apa2 pak, saya tetap komit pada janji saya, tidak seperti perusahaan bapak yg mengubar janji"
kata ini sempat mengagetkan gw, pdhal pembicaraan kami masih berjalan dengan tenang dan lancar, gw tanya, janji apa pak yg telah kami janjikan ke bapak?
ybs hanya ketawa, katanya perusahaan tempat gw bekerja menipu dia dengan mewajibkan dia membuka tabungan, sementara saldo tabungan dia berkurang terus.
gw berusaha menjelaskan ke dia dengan bahasa yg ckp ringkas, krn ybs sptnya tidak mengerti prosedur menabung, ketika gw jelaskan bahwa setiap bln kami akan melakukan pemotongan biaya adm tabungan dari saldo tabungan ybs, dan kami jg akan memberikan bunga sesuai saldo yg ada di tabungan ybs, jawaban yg bersangkutan makin ketus, ybs cmn blg, kalo gt barang yg saya kreditkan harga akhirnya brapa?
dalam hatiku tanya, orang ini ga pernah kredit atau pura2 bodoh? akhirnya gw jelasin lg pak, gw ga tau bpk ini apakah mmg dalam penangkapan bahasa yg krg atau gmana, ktk gw blg, "pak Rp 5000 1 bln dengan rata-rata 1 hari Rp 153 tidak memberatkan bapak kan?"
ybs lgsg tersinggung dan mengatakan bahwa gw membandingkan diri gw dengan dia, dia blg Rp 50 sehari aja bagi dia penting. semiskin inikah dia? kl benar kenapa dia masih berani ambil kredit? apakah tidak terlalu extreem? dari sekian byk yg melakukan kredit hanya dia yg mengatakan statement itu. gw blg bahwa hak bpk adalah mendapatkan barang dan mendapatkan bunga atas tabungan bapak, dan kewajiban bpk adalah membayar kembali angsuran + bunga kredit dan adm tabungan.
ybs tetap keberatan krn tabungan dia berkurang terus, dlm hati gw tertawa geli, mau marah jg salah marah jg salah. ybs blg enak saja tabungannya kalian potong terus, kan saya dah bayar bunga pokoknya saya keberatan bayar adm tabungan.
akhirnya gw berusaha menawarkan opsi bahwa kl bpk keberatan dgn harga barang bpk nanti yg tinggi silahkan bapak melunaskan saja, jwbnnya cmn blg mudah2an semoga dapat rezeki dari SBY.
nah mendengar jwb ini, gw terus terang bingung, apakah memang begitu rendah kah kesadaran kt sbg rakyat indonesia?
Indonesia berusaha mensejahterakan rakyatnya, dengan berupaya menerapkan system perkreditan yg sehat, tetapi rakyat malah tidak menerima dengan baik, rakyat malah merasa bhw ini membuat mereka berat.!
spt jwb td mudah2 dapat rezeki dari SBY, benar2 jawaban org yg ga ada masa depan. Maaf kl kata gw terlalu kasar. kesadaran kita terhadap hak dan kewajiban kita sebenarnya masih ada apa tidak sih?