Emotion can not solve anything !

Anjing yang setia   
Oleh : Andrie Wongso

Dikisahkan,
di sebuah dusun tinggallah keluarga petani yang memiliki seorang anak
masih bayi. Keluarga itu memelihara seekor anjing yang dipelihara sejak
masih kecil. Anjing itu pandai, setia, dan rajin membantu si petani.
Dia bisa menjaga rumah bila majikannya pergi, mengusir burung-burung di
sawah dan menangkap tikus yang berkeliaran di sekitar rumah mereka. Si
petani dan istrinya sangat menyayangi anjing tersebut.

Suatu hari, si petani harus menjual hasil panennya ke kota. Karena
beban berat yang harus di bawanya, dia meminta istrinya ikut serta
untuk membantu, agar secepatnya menyelesaikan penjualan dan sesegera
mungkin pulang ke rumah. Si bayi di tinggal tertidur lelap di ayunan
dan dipercayakan di bawah penjagaan anjing mereka.

Menjelang malam setiba di dekat rumah, si anjing berlari menyongsong
kedatangan majikannya dengan menyalak keras berulang-ulang,
melompat-lompat dan berputar-putar, tidak seperti biasanya. Suami istri
itu pun heran dan merasa tidak tenang menyaksikan ulah si anjing yang
tidak biasa. Dan Betapa kagetnya mereka, setelah berhasil menenangkan
anjingnya…astaga, ternyata moncong si anjing berlumuran darah segar.
“Lihat pak! Moncong anjing kita berlumuran darah! Pasti telah terjadi
sesuatu pada anak kita!” teriak si ibu histeris, ketakutan, dan mulai
terisak menangis.
“Ha…benar! Kurang ajar kau anjing! Kau apakan anakku? Pasti telah kau makan!” si petani ikut berteriak panik.

Dengan penuh kemarahan, si petani spontan meraih sebuah kayu dan
secepat kilat memukuli si anjing itu dan mengenai bagian kepalanya.
Anjing itu terdiam sejenak. Tak lama dia menggelepar kesakitan, memekik
perlahan dan dari matanya tampak tetesan airmata, sebelum kemudian ia
terdiam untuk selamanya.

Bergegas kedua suami istri itu pun berlari masuk ke dalam rumah. Begitu
tiba di kamar, tampak anak mereka masih tertidur lelap di ayunan dengan
damai. Sedangkan di bawah ayunan tergeletak bangkai seekor ular besar
dengan darah berceceran bekas gigitan.

Mereka pun segera sadar bahwa darah yang menempel di moncong anjing
tadi adalah darah ular yang hendak memangsa anak mereka. Perasaan sesal
segera mendera. Kesalahan fatal telah mereka lakukan. Emosi kemarahan
yang tidak terkendali telah membunuh anjing setia yg mereka sayangi.
Tentu, penyesalan mereka tidak akan membuat anjing kesayangan itu hidup
kembali.

Pembaca yang budiman,
Sungguh mengenaskan. Gara-gara emosi dan kemarahan yang membabi buta
dari ulah manusia, seekor anjing setia yang telah membantu dan membela
majikannya, harus mati secara tragis.

Saya rasa demikian pula di kehidupan ini. Begitu banyak permasalahan,
pertikaian, perselisihan bahkan peperangan, muncul dari emosi yang
tidak terkontrol. Karena itu, saya sangat setuju dengan kata-kata:
”Jangan mengambil keputusan apapun disaat emosi sedang melanda.” Sebab,
bila itu yang dilakukan, bisa fatal akibatnya. Sungguh, kita butuh
belajar dan melatih diri agar disaat emosi, kita mampu mengendalikan
diri secara sabar dan bijak.

Hehehe… cerita atas gw kutip dari artikel Pak andrie W

Leave a Reply